JANGAN SUKA MEREMEHKAN SESEORANG!


1 Habib Munzir Al Musawa berkata mengenai merendahkan ustaz,

hati hati saudaraku, karena banyak ustaz itu yg tanaazul, yaitu merendahkan pembahasan demi jamaah yg dihadapinya bukan orang yg mampu mendalami ilmu yg lebih mendalam, maka ia hanya mengajarkan yg dasar dasar saja, padahal ia lautan ilmu yg dalam,

ada seorang ulama besar, shalih dan tunduk para wali Allah swt padanya, ketika seseorang ditunjukkan alamat orang itu, ia hanya menemukan orang itu mengajari anak anak kecil membaca Alqur’an, maka ia syak dihatinya, kalau cuma ngajar anak kecil begini ya siapa juga bisa, tidak mesti ulama apalagi ulama besar dan shalih yg tunduk padanya para Wali Allah, maka orang itu menengadahkan wajahnya pada si tamu dan berkata : wahai engkau, sungguh diajarkan oleh Rasul saw bahwa mengajari anak kecil itu memadamkan kemurkaan Allah..!. maka iapun kecut dan diam…

saya punya pengalaman, saya ceritakan pada anda, ketika dalam suatu undangan, saya didudukkan di shaf pertama, dan kyai kyai sepuh di kiri dan kanan saya, lalu ada seorang ustaz muda yg tidak menyolok, ia lebih muda dari saya dan duduk dibelakang saya, menyalami saya dg penuh hormat lalu terus menunduk. saya menyalaminya spt biasa tanpa memberi penghormatan khusus sebagaimana saya menghormati ulama ulama dan kyai sepuh. sepulang dari acara, orang itu sudah tiada, ia pergi membantu panitya dalam pengaturan bubarnya tamu, lalu ia datang pada saya sebelum saya naik ke kendaraan saya, ia berkata : doakan saya habib, saya dangkal ilmu, doakan supaya saya bisa mengabdi pada ilmu sepanjang hidup saya, jadikan saya murid habib.., sesekali monggo kekediaman saya dekat sini.., saya mendoakannya, mencium dahinya, dan memeluknya dan menyambutnya dg hangat, dan saya katakan bahwa guru guru dan kyai kyai disini sudah sangat mumpuni, saya cuma ceret (teko air/kopi/teh) yg kelilingan kemana mana. ketika saya meninggalkan pesantren besar itu, saya tanya pada salah satu ajun saya yg alumni pesantren itu, saya tanyakan siapa anak muda tadi yg menyalami saya sampai ke mobil itu?, maka dijawab bahwa ia adalah ustaz besar dan sudah mengarang 100 kitab lebih dg bahasa arab, ia kyai besar yg masyhur namun usianya masih sangat muda. tersirap darah saya dan sangat menyesal.. ternyata dia kyai besar yg sudah menulis 100 kitab lebih, namun budi pekertinya sangat rendah diri dan rendah hati, sehingga semua orang yg tidak mengenalnya, tak akan mengira bahwa ia kyai besar.

 

suatu waktu lainnya, saya kunjung pada seorang guru besar disuatu wilayah, muridnya puluhan ribu dalam majelis mingguannya setiap suatu hari disore hari, saya lupa hari apa. tiada orang ceramah di majelisnya kecuali guru besar pula, dan Guru besar ini sering mencoba jika ada habib atau ulama yg datang padanya, dan saya tidak tahu itu, saya hanya tahu kalau saya dijadwalkan kesana dan ceramah di majelis itu.. tuan guru itu dengan rendah hati mempersilahkan saya bicara, memang saat itu sedang ramai masyarakat merayakan haul seorang ulama masa lalu, maka ia berkata dengan lembut, silahkan habib.., silahkan berdiri menyampaikan ceramahnya, kami ingin menyimak ceramah habib, khususnya dalil yg bisa dipakai hujjah untuk perayaan haul.. lihat ucapannya, ia mengizinkan saya ceramah dg lembut, tapi ia ingin mencoba atau ingin tahu lebih jelas tentang dalilnya peringatan haul… darah saya tersirap, karena saya tidak siap membahas tentang dalil haul, saya tidak menyangka diwilayah ini akan ditanya akan dalilnya acara haul, saat saya berdiri dan mulai tausiyah, hati saya terus mempertajam ingatan mencari dalil haul, Alhamdulillah saya mendapat bisikan luhur akan ayat yg mendukung dalil haul, dua ayat sekaligus dalam satu surat di Alqur’an, selepas saya ceramah, ia sungguh terperanjat, dan terus menerus mengulang ulang ucapan : Betul itu… betul itu.. saya koq belum terfikir ke ayat itu, itu sungguh dalil haul yg terkuat, sungguh betul itu.. sungguh betul.. habib memang luar biasa.. dalam hati saya, sayapun tidak tahu akan ditanya soal ini disini, dan itu datang dari bisikan ilahi mengingatkan saya pada ayat itu yg tepat mengena soal dalil haul, dua ayat pula,dalam surat yg sama.

 

juga saat saya ke Tarim hadramaut yaman, (1994-1998), saya duduk hadir disuatu majelis yg penuh sarat dengan para ulama kelas satu, disana ada empat mufti, saya tidak mengenal mereka karena baru datang dari indonesia, karena halaqah sudah penuh padat, saya duduk dipaling belakang, disebelah saya orang orang yg menyiapkan kopi dan suguhan untuk para hadirin, disebelah mereka duduk seorang sepuh bertampang biasa saja, saya mencium tangannya bukan karena apa apa, tapi karena ia sudah sepuh, dan hati saya membatin, bahwa dia ini bukan ulama apa apa, cuma sepuh saja, kalau dia ulama mestilah ia duduk dishaf depan atau terdepan, bukan duduk disebelah tukang pembagi kopi dg gelas gelas yg ribut dan air bertumpahan kemana mana. selepas majelis bubar, semua orang berdesakan menyalaminya, termasuk ulama ulama sepuh yg dishaf terdepan, saya bingung dan bertanya tanya, inikan cuma orang sepuh yg duduk dipaling belakang, ternyata ia adalah Almarhum Syeikh Fadhl ba fadhl, pimpinan majelis para mufti di Tarim hadramaut, ia pimpinan mufti, namun karena tawadhu dan rendah dirinya, ia tidak mau maju kedepan karena datang terlambat, saya jadi sangat malu..

 

ringkasnya saudaraku, berhati hati atas ustaz yg mengajar hal hal yg mudah, mungkin ia mengajar hal yg mudah di jamaah itu, namun mengajar hal hal yg jauh diatas pemahaman kita di kelompok murid2 lainnya. guru Mulia kita pun pernah dan sering mencoba kedalaman ilmu muridnya, suatu ketika dalam pelajaran faraidh (ilmu waris), beliau bertanya pada murid2nya, coba hitung.., jika seorang wafat meninggalkan 3 anak pria, suami, istri, dan ayah, ayo jawab berapa masing masing bagiannya..? maka kami mulai meghitung cepat dan buru buru mengacung untuk menjawab, lalu ternyata jawaban kami satupun tiada yg benar, sambil tertawa beliau melihat kami yg kebingungan kenapa jawaban tiada yg benar?? beliau menjawab dg bahasa arab yg kira kira maknanya : makanya, kalau ditanya itu pikir dulu, jangan sembarang hitung dulu kesana kemari, saya kan sebutkan seorang wafat, meninggalkan sekian anak, dan meninggalkan SUAMI, dan juga ISTRI, lalu siapa dia?, kalau ia meninggalkan istri, berarti almarhum adalah suaminya, kalau ia meninggalkan suami, berarti yg wafat adalah istrinya, kalau ia meninggalkan suami dan istri, maka siapa dia?, pertanyaan ini harus direnungkan dulu sebelum dijawab..!, demikian ucapan beliau pada kami sambil tertunduk geli, kamipun tertawa dan terkecoh.

 

dilain waktu, Guru Mulia mengajar Nahwu dasar, ada yg memang baru kenal nahwu, ada yg sudah mendalami nahwu, ada guru guru pakar syariah yg sangat mendalam dalam nahwu dan seluruh cabang lainnya ikut duduk saja hadir, beliau memberi contoh fi’il Amr, (kata ganti untuk perintah), hanya contoh kata saja, namun suara beliau ditekan, dan membuat murid murid senior yg sudah jauh melewati nahwu malah tertunduk menangis ketakutan… saya jadi bingung, ini kan pelajaran nahwu dasar, dan contoh yg diberikan hanya contoh fi’il amr, sayapun sudah tahu itu tapi diam saja karena tahu kedalaman ilmu beliau, namun kenapa para guru guru saya yg murid beliau juga, malah menunduk dan menangis ketakutan…?? ternyata mereka mendalami makna ucapan itu,

Guru Mulia mengajarkan contoh saja, kepada mereka yg masih belajar nahwu yg dasar, tapi menghantam dg pengajaran tajam pada para senior, ucapan beliau : beberapa contoh fi’il amr adalah : Ikhsya’..!, Ikhdha’..!, Irqa’..!, dan beberapa contoh lainnya. bagi yg pemahaman ilmu nahwunya mendasar, mereka hanya mencatat, tapi yg senior, menunduk ketakutan dan menangis, karena makna ucapan kalimat contoh itu adalah : Ikhsya’..!(khusyuklah..!!), Ikhdhah..! (Tunduklah pada Allah..!!), Irqa’..! (dakilah tangga keluhuran..!!), maka para senior itu gemetar dengan kalimat kalimat itu, padahal beliau hanya memberi contoh saja pada mereka yg nahwunya di kelas dasar, tapi memberi ilmu makrifah pada yg kelas senior, dg ucapan yg sama… demikian samudera ilmu.., mengajar satu cabang ilmu, namun berbeda cabang ilmu yg difahami masing masing tingkatan.. hamba pun sering begitu, mengulang ulang riwayat yg sama di satu majelis atau majelis yg berbeda, karena hamba tahu banyak di majelis itu yg belum jelas masalah itu dan perlu diulang, atau hamba tahu bahwa mereka ada yg terjebak hal itu dan butuh diingatkan, maka hamba menjawabnya dg pembahasan itu sebelum mereka bertanya, namun jika mereka menyimak, mereka akan mendapatkan jawaban atas apa yg belum mereka temukan jawabannya dari masalah mereka, sedangkan mungkin jamaah lain mengatakan kenapa koq pembahasan ini diulang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: