Akal Dari Pandangan Islam


Akal berasal dari kata Ya’qilu, ‘Aqala, ‘Aqlaa, dalam bentuk mashdar yang artinya  jika dia menahan dan memegang erat apa yang dia ketahui. Akal adalah ni’mat besar yg Allah titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yang bisa disebut Rahmat-Nya Allah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yg sangat menakjubkan. Oleh karenanya dalam banyak ayat Allah memberi semangat untuk berakal (yakni menggunakan akalnya) di antaranya:

وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَوَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ

Dan Dia menundukkan malam dan siang matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dgn perintah-Nya. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar ada tanda-tanda bagi kaum yg memahami.”

مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى  وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ

بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yg berdampingan dan kebun-kebun anggur tanaman- tanaman dan pohon korma yg bercabang dan yg tidak bercabang disirami dgn air yg sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yg lain tentang rasanya.Sesungguhnya pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yg berfikir.” Sebaliknya Allah mencela orang yg tidak berakal seperti dalam ayat-Nya:

وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ“

Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yg menyala-nyala’.”

Islam tidak menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber akidah namun islam juga menjadikan keyakinan(Iman) sebagai hal yang paling utama. Dalam islam terdapat dua sumber sebagai landasan akidah islam yaitu dalil naqli (Al-Qur’an,Hadits, Ijma Ulama dan Qiyash) dan juga dalil aqli (akal) namun dalam kedudukannya dalil naqli sebagai pokok sumber akidah islam sedangkan dalil aqli sebagai penyempurna sumber akidah islam.

islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, diantara hal yang menunjukan perhatian dan penghormatan islam kepada akal adalah :

–           Islam memerintahkan manusia untuk menggunakan akal dalam rangka mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya.

–           Islam mengarahkan kekuatan akal kepada tafakkur (memikirkan) dan merenungi (tadabbur) ciptaan-ciptaan Allah dan syari’at-syari’atnya sebagaimana dalam firmanNya,

–           Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadiaan) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan waktu yang telah ditentukan, Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum : 8) ,

-“         Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal”, (Al Baqarah : 184),

–           “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maak bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Jumu’ah : 9).

bentuk kemuliaan lainnya terhadap akal seperti:

  1. Allah menjadikan akal sebagai tempat bergantungnya hukum sehingga orang yg tidak berakal tidak dibebani hukum.
  2. Rasulullah SAW bersabda :

يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمُ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى رُفِعَ

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yg gila yg akalnya tertutup sampai sembuh orang yang tidur sehingga bangun dan anak kecil sehingga baligh.” Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima perkara yg harus dilindungi yaitu:  mengharamkan khamr utk agama akal harta jiwa dan kehormatan.

  1. Allah  menjaga akal. Allah SWT berfirman :

لاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَإِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا

Hai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamar berjudi berhala mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Nabi  bersabda:  مٍ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَا

“Setiap yg memabukkan itu haram.”

Dalam rangka menjaga akal maka wajib ditegakkan hal bagi peminum khamr.”

  1. Tegaknya dakwah kepada keimanan berdasarkan kepuasan akal. Artinya keimanan tidak berarti mematikan akal bahkan Islam menyuruh akal untuk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman dan tidak ada ajaran manapun yang memuliakan akal sebagaimana Islam memuliakannya tidak menyepelekan dan tidak pula berlebihan.

Kita memahami Al Qur’an dan Hadits (dalil naqli) dengan mengembalikan kepada Allah  SWT yakni menggunakan hati atau dalil aqli atau dalil akal sebagaimana Ulil Albab (orang-orang yang berakal)  Ulil Albab dengan ciri utamanya adalah,

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran [3] : 191) Ulil Albab berasal dari lubb tingkatan dari qalb atau hati. Akal terbagi 2 yaitu :

  1. Akal Qalbu (Hati) dan
  2. Akal Pikiran (Logika)

Akal Qalbu (Hati) berbeda dengan Akal Pikiran (logika) Dalil Aqli adalah Akal Qalbu, “tanyakanlah pada hati” , “hati tidak pernah berbohong” , “nafsu yang mencari-cari alasan”
Rasulullah SAW Bersabda : “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Akal Pikiran (logika) adalah bersandar pada kemampuan sendiri atau kerja otak sendiri sedangkan Akal Qalbu (hati) adalah mengikuti cahayaNya atau petunjukNya yang diilhamkan keseluruh Qalbu / jiwa setiap manusia.“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”( haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )

Ruang Lingkup Akal Dalam Islam

Meskipun islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu.

Maka Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syar’i walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu. Kemaksiatan yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam, Iblis berkata: ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..” (QS.Shaad ; 76).

Karena inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan yang semacamnya, Rasulullah bersabda, ”Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah.

Allah berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra’ : 85). 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: