Allah SWT Maha Memaafkan HambaNYA Yang Berdosa


Allah SWT Maha Memaafkan HambaNYA Yang Berdosa
Senin, 23 Mei 2011

قال رسوال الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ فَاغْفِرْ لِي فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: Sungguh seorang hamba berbuat dosa, lalu ia memohon pengampunan pada Allah, ampunilah hamba, maka berkatalah Allah padanya: HambaKu, sungguh telah berbuat dosa, namun ia mengetahui ia memiliki Tuhan Yang Maha Memaafkan dan menolongnya, maka kumaafkan hambaKu. (ucapan ini terus diulang2 oleh Rasul SAW” (Shahih Bukhari).

ImageAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang telah mengizinkan kita untuk hadir di dalam perkumpulan mulia istana anugerah Ilahi, yang mengizinkan sanubari kita untuk mengingat-Nya, bagi mereka yang mau mengingat-Nya. Ketahuilah bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak memberikan izin untuk mengingat-Nya kepada hamba-hamba yang tidak dikehendaki-Nya, sebagaimana ketika ummat-ummat terdahulu berkata kepada Allah: “Wahai Allah jika hamba-hamba yang belum bertobat memohon kepada-Mu dan menyebut nama-Mu, maka bagaimanakah hal itu?”, maka Allah menjawab : “Kalau mereka menyebut-Ku dan berdoa kepada-Ku, maka Aku menyebutnya dengan laknat-Ku”. Namun berbeda dengan ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana telah difirmankan oleh Allah subhanahu dalam hadits qudsi :

 فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي

“Jika ia mengingat/menyebut-Ku dalam kesendirian, maka Aku Mengingatnya dalam kesendirian(Dzat)Ku” 

Dan terdapat dalam riwayat musnad Al Imam Ahmad, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ فَلاَ أُبَالِي

” Wahai keturunan Adam , jika engkau berdoa dan berharap kepadaKu niscaya Kuampuni dosa-dosa kalian tanpa Kupertanyakan lagi. ” (HR Musnad Ahmad)

Jika ummat sayyidina Muhammad datang kepada Allah berdoa dan bermunajat maka akan Allah ampuni dosa-dosa itu tanpa dipertanyakan lagi. Maka dimanakah para pendoa? dimana orang-orang yang memanggil Ya Allah?!”. Banyak manusia yang di dalam hatinya kering dari seruan nama Allah, apalagi bibirnya. Di masa lalu kesempatan banyak berdzikir ( menyebut Allah) tidak diberikan kepada semua orang kecuali mereka harus lepas dan suci dari dosa. Sedangkan di masa kini kesempatan dibuka seluas-luasnya, sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi : “mereka yang berdoa dan berharap kepada-Ku , maka Aku hapus dosa-dosanya dan tidak Kupertanyakan lagi”. Allah juga berfirman dalam hadits qudsi:

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

“Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau”

Dan jika dosa keturunan Adam itu memenuhi langit dan jika ia meminta ampun kepada Allah maka Allah akan mengampuni dosanya”
Allah subhanahu wata’ala berfirman :

قَالَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

( الأعراف : 23 )

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” ( QS. Al A’raf : 23 )

Kesalahan (dosa) pertama yang pernah ada dari manusia adalah diperbuat oleh nabi Adam, bukan berarti nabi Adam itu telah berbuat dosa karena semua nabi itu ma’sum (terjaga dari perbuatan dosa), namun hal itu telah dikehendaki Allah dengan hikmah agar manusia turun ke bumi. Maka disaat itu doa yang diucapkan nabi Adam adalah :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

( الأعراف : 23 )

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” ( QS. Al A’raf : 23 )

Doa ini selayaknya dilantunkan oleh bibir dan hati kita, karena setiap waktu diri kita selalu berbuat hal yang zhalim terhadap diri kita sendiri. Inilah doa tertua yang diucapkan oleh nabi Adam AS ketika masih di surga. Dan mengapa Allah menciptakan neraka?, Allah tidak menciptakan neraka kecuali yang kekal di neraka hanyalah mereka yang jika Allah kembalikan ke dunia maka mereka akan tetap berbuat jahat. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

( الأنعام : 28 )

“Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya . Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.” ( QS: Al An’am : 28 )

Jika mereka dikembalikan lagi kepada kehidupan dunia maka mereka akan kembali kepada apa yang telah mereka perbuat dari sesuatu yang dilarang oleh Allah, maka mereka itulah yang akan kekal di neraka, adapun yang selain mereka maka tidaklah akan kekal di dalam neraka, adakah yang lebih indah dari perbuatan Allah?. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

( النساء : 147 )

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” ( QS. An Nisaa: 147 )

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits telah kita baca, hadits ini diulang hingga 3 kali dalam Shahih Al Bukhari ; dimana seorang hamba berbuat dosa kemudian ia menyesal kemudian meminta ampun kepada Allah, maka pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari hadits ini yaitu jika telah melakukan dosa maka jangan dibiarkan saja sehingga dosa-dosanya terus menumpuk dan menumpuk, namun teruslah beristighfar, memohon ampun kepada Allah. Maka tatkala hamba yang berbuat dosa tadi berkata :
“Wahai Allah aku telah berbuat dosa”, maka Allah menjawab :

عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي

“Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap dosa, Aku telah mengampuni hamba-Ku.”

Kemudian hamba itu berdosa lagi dan berkata : “ Wahai Allah aku telah berbuat dosa”, maka Allah menjawab :

عَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي

“Hamba-Ku telah mengetahui bahwa ia memiliki Rabb yang Maha Mengampuni dosa dan menghukumi setiap dosa, Aku telah mengampuni hamba-Ku.”

Demikian berkali-kali yang telah diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari . Al Imam Ibn Hajar berkata dalam mensyarahkan hadits ini bahwa sebagian pendapat mengatakan hanya tiga kali, namun pendapat yang lain mengatakan lebih dari tiga kali karena tidak mungkin manusia hanya berbuat dosa sebanyak tiga kali, kecuali para nabi dan rasul yang memang terjaga dari dosa, maka tercakup pula dalam makna hadits qudsi berikut ini:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا الَّذِي أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“ Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian dalam kesalahan di siang dan malam, dan Aku lah Yang Maha Mengampuni semua dosa-dosa, maka mohonlah pengampunan kepada-Ku akan Kuampuni dosa-dosa kalian”

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Allah subhanahu wata’ala memuliakan hamba-hamba-Nya dengan seindah-indah keadaan, dan beruntunglah para pencinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang ketika nafas-nafas dicatat oleh para malaikat sedang merindukan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling indah, manusia yang paling ramah, manusia yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala, manusia yang paling mencintaimu, kelak di hari kiamat semua orang melupakanmu kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Semua para nabi dan Rasul berkata :
“nafsi nafsi, izhhabuu ila ghairi ( diriku-diriku, pergilah kepada selainku)” , kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak diam atas dosa-dosa kita, meskipun diawalnya beliau berkata : “pergi dan keluarlah dari kelompokku, orang-orang yang berbuat dosa setelah aku wafat”, namun ketidaktegaan hati rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam muncul ketika ummatnya terusir dari semua para nabi Rasul, nabi Adam As ayah para manusia pun tidak bisa menolong mereka, yang mana ketika itu mereka merasa bahwa dia akan menolong mereka karena dia adalah bapak dari semua manusia, namun tetap saja nabi Adam AS berkata : “nafsi nafsi”. Begitu pula nabi Ibrahim As abu al anbiyaa ( ayah para nabi ), mengapa disbut demikian? karena semua nabi dari bani Israil adalah keturuna dari nabi Ibrahim As.

Maka ketika mereka terusir dari semua nabi, mereka pun kembali lagi kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata : “Wahai Rasulullah, semua nabi dan rasul mengusir kami”, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas dosa-dosa kita kelak di hari kiamat. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

( الإنسان : 10 )

“ Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” ( QS. Al Insan : 10 )

Hari ketika Allah subhanahu wata’ala mengguncang alam semest, dan Allah tidak pernah marah dan murka sebelumnya dengan kemurkaan yang dahsyat seperti saat itu dan tidak akan pernah murka lagi seperti itu selama-lamanya. Di saat itu tidak ada satu pun yang berani berbicara, kecuali nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata kepada ummat-ummat yang terusir dari para nabi : “Aku yang akan menghadap Allah”, demikianlah sayyidina Muhammad yang peduli terhadap dosa-dosa kita, menjadikan dirinya jaminan di hadapan Allah yang mana Allah sedang dalam keadaan murka, yang pada saat itu jika ada yang salah berucap maka akan dilempar ke dalam api neraka. Dan dikatakan bahwa api neraka itu bukanlah tempat murkanya Allah namun hanya diciptakan untuk orang-orang yang dimurkai Allah, karena jika Allah murka kepada neraka maka neraka itu lebur takutnya kepada murka Allah. Maka disaat nabi Muhammad mengahadap kepada Allah beliau bersujuda, kemudian Allah berfirman : “apa yang membuatmu bersujud wahai Muhammad”?. Lalu rasulullah berkata : “aku memuji Allah dengan pujian yang belum pernah aku memuji-Nya dengan pujian itu dan Allah pun memujiku dengan pujian yang belum pernah Allah memujiku seperti itu”. Di hari dimana Allah sangat murka namun ketika itu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dipuji dengan pujian yang belum pernah dipuji dengan pujian itu sebelum dan sesudahnya, lantas Rasulullah berkata : “ummati ummati”, maka Allah berkata : “Angkatlah kepalamu,dan mintalah pasti Kuberi dan selamatkanlah ummatmu yang ingin engkau selamatkan dengan syafaatmu”. Jika ditanya mana yang lebih baik, Allah subhanahu wata’ala atau nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentunya Allah subhanahu wata’ala, tetapi mengapa yang meminta pengampunan adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?, karena nabi Muhammad adalah ciptaan Allah. Allah subhanahu wata’ala yang menciptakan makhluk yang paling indah itu, dan Dialah Allah yang menjadikan alam ini ada, maka kenalilah kasih sayang-Nya melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kita tidak bisa bertemu dan berjumpa dengan Allah maka kenalilah Allah melalui sosok sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sampai di neraka pun kasih sayang Allah masih tetap ada untuk para pendosa agar mendapatkan syafaat, sebagai bentuk dari kasih sayang Rabbul ‘alamin .

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketika ketentuan-ketentuan yang tidak kita kehendaki terjadi pada kita, maka janganlah menyesalinya dan bersedih akan hal itu, banyak pertanyaan muncul kepada saya akan hal-hal seperti ini. Ketahuilah mungkin yang terjadi pada kita itu adalah hal yang baik untuk kita, sebagaimana kejadian yang dijelaskan di dalam surah Al Kahfi, kejadian antara nabi Musa As dan Nabiyullah Khidir As. Dimana disaat itu nabi Khidir As diutus untuk menemui nabi Musa AS dan mengajarinya tentang takdir-takdir Ilahi. Kisah ini sangat panjang namun secara singkat ketika nabi Musa As bertemu dengan nabi Khidir As, nabi Musa berkata kepada nabi Khidir :
“izinkanlah aku ikut bersamamu untuk kau ajari aku tentang ilmu yang egkau ketahui?”, nabi Khidir berkata: “sungguh engkau tidak akan bisa sabar bersama denganku”, nabi Musa AS menjawab: “Insyaallah aku akan bisa bersabar dan tidak akan melanggar perintahmu”, lalu nabi Khidir berkata: “Jika kau ikut bersamaku, maka jangan bertanya tentang sesuatu sampai aku yang mengatakannya kepadamu”. Maka keduanya berjalan hingga menaiki sebuah perahu lalu nabi Khidir membocorkan perahu itu, maka nabi Musa berkata: “Apakah engkau membocori perahu itu untuk menenggelamkan orang-orang di dalamnya, sungguh engkau telah berbuat kesalahan”, maka nabi Khidir berkata : “bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan bisa sabar mengikutiku”, maka nabi Musa berkata : “baiklah maafkan aku, sungguh aku telah lupa”, kemudian mereka melanjutkan perjalanan sehingga mereka menemui seorang anak kecil maka dibunuhlah anak kecil itu oleh nabi Khidir, lalu nabi Musa As berkata : “mengapa engkau membunuh anak kecil yang tidak berdosa?”, maka nabi Khidir kembali berkata : “bukankah telah aku katakan padamu, engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku”, maka nabi Musa kembali berkata : “baiklah maafkan aku, jika nanti aku bertanya lagi kepadamu akan sesuatu maka tinggalkanlah aku”, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dan ketika tiba di sebuah perkampungan, maka penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka dan tidak mau menjamu mereka, lalu disana mereka menemukan sebuah dinding rumah yang telah rapuh dan hampir roboh, maka nabi Khidir memperbaiki dan membangun kembali dinding rumah itu, maka nabi Musa berkata : “jika engkau mau, engkau bisa meminta imbalan untuk itu”, kemudian nabi Khidir berkata : “inilah akhir pertemuanku denganmu, aku akan menjelaskan kepadamu akan hal-hal yang tidak mampu engkau bersabar atasnya, ketahuilah bahwa perahu yang kubocorkan tadi adalah milik orang miskin yang bekerja di laut, dan aku merusaknya hingga perahu itu tenggelam karena dihadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu”. Lihatlah takdir Allah yang terjadi, jika perahu itu masih berada di atas permukaan laut maka pastilah perahu itu akan dirampas oleh para perampok, namun Allah takdirkan tenggelam namun hal itu untuk menjaga agar hartanya tidak dirampas oleh para perampok. Lalu nabi Khidir berkata : “Adapun anak muda (kafir) itu kubunuh, karena kedua orang tuanya adalah orang yang beriman dan aku khawatir dia akan memaksa kepada kesesatan dan kekafiran dan Allah akan menggantikannya dengan anak lain yang lebih baik darinya, adapun dinding rumah yang kubangun itu adalah milik dua anak yatim di kampung itu, yang dibawahnya ada pendaman harta untuk mereka dan ayahnya adalah orang shalih, maka Allah berkehendak agar anak yatim itu sampai dewasa lalu keduanya mengeluarkan harta itu sebagai rahmat dari Allah”. Disebutkan dalam tafsir Al Imam Ibn Katsir, Al Imam Qurthubi dan lainnya m bahwa harta itu adalah pendaman ayahnya yang shalih, yaitu nenek moyang yang ketujuh, namun masih Allah jaga hartanya hingga keturunannya yang ketujuh. Dari sini banyak makna yang perlu saya perjelas, diantaranya adalah bahwa orang yang shalih itu selalu dijaga oleh Allah, jangankan imanya hartanya pun dijaga oleh Allah hingga tujuh keturunan, disebutkan dalam tafsir Ibn Katsir, tafsir Qurthubi dan lainnya ketika nabi Khidir membuka pendaman harta itu tertulis dengan emas lafadz : “Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”, maka kagetlah nabi Khidir dan nabi Musa karena tulisan itu mengkabarkan akan dekatnya kedatangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka akhirnya nabi Musa dan nabi Khidir pun berpisah.

Hadiri hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh karena itu jika dalam kehidupan kita ada hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita maka mungkin saja hal itu ada hikmahnya yang jauh lebih besar dan baik di masa mendatan. Mudah-mudahan di hari-hari kita selalu terbit rahmat dan kasih sayang Allah sampai tujuh keturunan bahkan tujuh puluh keturunan, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: