Wajah Yang Paling Indah


قَالَ أَنَسُ ابْنُ مَالِك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(صحيح البخاري)

Berkata Anas bin Malik Ra : “Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Shahih Al Bukhari)  http://www.majelisrasulullah.org

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ…

Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang telah menganugerahkan kepada kita anugerah terbesar yaitu iman, dengan perantara manusia yang paling beriman dan seseorang tidak akan mencapai puncak keimanan kecuali dengan mencintai sang pembawa tuntunan keimanan, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan oleh hujjatul islam wabarakatul anam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi shahib Simtuddurar, di dalam qasidahnya beliau menjelaskan bagaimana detak-detak jantung yang selalu rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pembawa keluhuran dari Allah. Ketika beliau ditanya : “apa yang menjadi penyembuh dari penyakit-penyakitmu”?, maka Al Habib Ali menjawab : “obatnya adalah berjumpa dengan kekasihku, dan airmataku selalu mengalir karena rindu dengan kekasihku. Wahai Allah sampai kapankah Engkau biarkan air mata ini mengalir, apakah menunggu sampai air mata darah yang mengalir dari mataku”, demikian ucapan hujjatul islam wabarakatul anam shahib Simtuddurar Al Habib Ali Al Habsyi Ar. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Dengan rahasia keluhuran Allah lah kita sampai ke majelis ini, sampailah kita sebagai tamu Allah di istana keridhaan Allah, tidak satupun yang menginjak majelis ini kecuali dijanjikan untuknya pengampunan dan rahmat Allah, yang paling tidak adalah pengampunan Allah subhanahu wata’ala dan lebih dari itu adalah rahmat-Nya yang maha luas. Keberuntungan demi keberuntungan mengalir dalam kehidupan, dan dalam kehidupan ada keberuntungan yang membuka keberuntungan selanjutnya, dan ada pula keberuntungan yang membuka kehinaan, maka selalu lah memohon kepada Sang Pemilik keberuntungan untuk membuka pintu keberuntungan bagi kita yang membuka keberuntungan untuk hari esok di dunia dan akhirah, Dialah (Allah) Yang Maha memilikinya, Dialah Yang Maha melimpahkannya, Dialah Yang Maha membagi-bagikannya sepanjang waktu dan zaman, Dialah Yang Maha berhak memberimu lebih dari apa yang telah disiapkan, Maha mampu memberimu lebih daripada apa yang pantas untukmu, hanya Dialah Yang Maha Tunggal dan Maha Abadi yang mampu melakukannya. Allah subhanahu wata’ala selalu siap memberi lebih dari yang kita minta dan kita harapkan, terbukti dari pemberiannya yang sedemikian banyak tanpa kita memintanya, betapa banyak hajat (kebutuhan) yang diberikan kepada kita tanpa kita memintanya ; jasad kita dan gerakannya, lidah kita dan suaranya, telinga kita dan pendengarannya, penglihatan kita dan pemandangannya, kesemua itu adalah hajat kita dan kita diberinya tanpa meminta, adakah yang lebih baik dari-Nya?!, maka janganlah kecewa jika ada satu atau dua permintaan kita yang belum diijabah oleh Allah subhanahu wata’ala, karena barangkali terdapat rahasia keluhuran yang tersembunyi di balik itu semua. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Allah subhanahu wata’ala berfirman: وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (التوبة : 100 ) “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” ( QS. At Taubah: 100) Semoga aku dan kalian termasuk pengikut mereka, para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kaum Muhajirin dan Anshar, pengikut guru-guru kita dimana mereka mengikuti guru-gurunya sampai kepada Muhajirin dan Anshar, dan hingga sampai kepada imam Muhajirin dan Anshar, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bulan Syawwal mengingatkan kita pada suatu kejadian besar, yaitu perang Hunain. Perang Hunain terjadi pada tanggal 6 Syawwal, dalam riwayat lain terjadi pada pertengahan Syawwal dan dalam riwayat lainnya terjadi pada akhir Syawwal, namun yang pasti adalah di bulan Syawwal pada tahun ke-8 H setelah Fath Makkah. Setelah Fath Makkah, Makkah telah ditundukkan tanpa senjata, seluruh patung di Ka’bah dibersihkan tanpa ada lagi pertikaian, kesemuanya telah pasrah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersama 10.000 muslimin muslimat yang ikut dalam Fath Makkah. Di saat itu seusai Ka’bah dan Makkah dibenahi, ternyata masih ada orang-orang yang belum menerima kenabian nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka adalah kaum Hawazin, di wilayah Hawazin mereka telah mengumpulkan pasukan yang sangat banyak, mereka adalah perpaduan antara kaum Yahudi dan kuffar Quraisy, mereka bersatu di Hawazin untuk menyerang Madinah Al Munawwarah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak jadi kembali ke Madinah, tetapi setelah Fath Makkah beliau langsung menuju ke Hawazin untuk peperangan di medan Hunain. Adapun jumlah muslimin di saat itu adalah 12.000 orang. Dan Rasulullah diikuti oleh banyak penduduk Makkah yang baru masuk Islam dan banyak juga orang-orang yang masih setengah iman, ada yang baru masuk Islam namun imannya sudah sangat kuat, ada juga yang terpaksa masuk Islam karena khawatir dimusuhi oleh mayoritas kaum muslimin. Di zaman dahulu dalam peperangan ada adabnya, berbeda dengan zaman sekarang. Dahulu meskipun diantara mereka terdapat orang-orang munafik, ada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir, namun dalam hal peperangan mereka memiliki peraturan, peraturannya adalah peperangan tidak boleh dimulai kecuali sudah menjelang pagi dan keadaan sudah terang, ketika sudah masuk waktu dhuha maka boleh memulai perang, dan ketika matahari akan terbenam maka peperangan harus dihentikan. Hal itu adalah peraturan yang tidak tertulis dan dipatuhi oleh seluruh dunia di masa itu. Namun di saat itu kaum Hawazin melanggar peraturan ini, karena disaat kaum muslimin baru selesai mengerjakan shalat Subuh dan Rasulullah bersama kaum muslimin masih berada di dalam kemahnya, mereka langsung diserbu oleh pasukan kaum Hawazin, mereka muncul dari balik batu, dari gunung-gunung, dari bukit, dan dari lubang-lubang yang mereka buat, dan mereka menghujani muslimin dengan panah mereka maka kacau balau lah keadaan muslimin di saat itu, mereka kebingungan karena diserang panah yang tidak diketahui dari mana arahnya, entah dari depan, dari belakang, dari kiri atau dari kanan, maka 12.000 kaum muslimin diantara mereka ada yang melarikan diri karena iman mereka lemah, dan ada yang bersembunyi untuk mengetahui dari mana arah panah-panah itu. Maka keadaan di saat itu sangat kacau mereka semua lari dan berpencar, tinggallah Rasulullah bersama beberapa kaum muhajirin dan ahlul bait, diantara mereka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq, sayyidina Umar bin Khattab, sayyidina Ali bin Abi Thalib dan sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib, dan dalam riwayat lain juga termasuk juga Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Mutthalib (bukan Abu Sufyan bin Harb, pimpinan Makkah). Kelima orang ini tidak ingin jauh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun diantara muslimin yang lainnya ada yang melarikan diri, ada yang bersembunyi, ada yang kebingungan tidak tau harus berbuat apa, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berseru: “wahai kaum Anshar!”, namun belum ada yang menjawab karena kaum Anshar ketika itu pun terpecah belah. Maka Rasulullah pun maju, namun Abu Sufyan bin Harits menahan tali kuda beliau agar beliau tidak maju karena gentingnya keadaan di saat itu dimana serangan panah tidak henti-hentinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: أَناَ النَّبِيُّ لَا كَذِبَ أَنا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ “Aku adalah seorang nabi yang tak akan berdusta, akulah putra Abdul Mutthalib” Yang terkenal sebagai ksatria dan tidak akan lari dari peperangan, maka majulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Abu Sufyan berteriak melanjutkan seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ya ma’syaral Anshar!”, kaum Anshar mendengar seruan itu dan menjawab: “Labbaik wasa’daik Ya Rasulullah”, maka kaum Anshar pun turun dari atas bukit, maka semangat mereka bersatu kembali setelah melihat Rasulullah maju dalam peperangan, jika Rasulullah mundur maka keadaan 12.000 kaum muslimin akan kacau balau, namun karena Rasulullah maju sendiri maka merekapun kembali bersatu yang akhirnya membawa kemenangan. Dalam kejadian ini terdapat satu hikmah bahwa banyaknya jumlah pasukan belum tentu merupakan suatu kekuatan, banyaknya senjata juga belum tentu merupakan suatu kekuatan, tetapi kekuatan yang hakiki adalah kekuatan yang ada pada ruh dan jiwa, mengandalkan kekuatan Allah subhanahu wata’ala itulah kekuatan yang sebenarnya. Ada sebuah hikayat di zaman Bani Israil, dimana ketika itu ada seorang Rahib (ulama di zaman sekarang) yang berdakwah namun tidak disenangi oleh raja di masa itu, tetapi banyak para pengikut rahib itu. Ketika Rahib itu ditangkap, ribuan pengikutnya pun turun dan menyerang istana Raja, maka Rahib itu dipanggil dari dalam selnya dan diperintah untuk menyuruh para pengikutnya bubar dari istana, maka Rahib itu berkata: “kalian tidak perlu takut dengan mereka, mereka hanyalah buih namun nanti sore akan datang gelombang itulah yang harus kalian risaukan”. Maka di sore harinya datanglah seorang pemuda ksatria dengan satu kampaknya ia menghancurkan benteng kerajaan itu, mengacak dan memporak-porandakan semua pasukan sang raja, dialah gelombang itu. Hadirin hadirat, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabat untuk menjadi seperti gelombang bukan menjadi buih, karena buih hanyalah muncul dan terlihat banyak namun tidak memiliki kekuatan yang setelah itu akan hilang, namun berbeda dengan gelombang. Dan terbukti ketika perang Badr bahwa jumlah muslimin sebanyak 313 orang mereka bagaikan gelombang, dan Wali Songo yang sembilan orang itu pun berjiwa gelombang, yang mana mereka datang ke Indonesia dengan damai tanpa ada kerusuhan dan tidak membawa senjata apa pun, mereka datang dan mengajarkan kedamaian, mereka menikah dengan putri-putri raja yang kemudian masuk Islam yang akhirnya Islam tersebar luas ke seluruh pulau Jawa, Papua, Makassar, dan lainnya. Mereka (Wali Songo) adalah gelombang, buah dari perjuangan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu yang kita harapkan dari perjuangan dakwah nabi Muhammad adalah munculnya gelombang, yaitu orang-orang yang mempunyai jiwa yang cinta kepada nabinya, jiwanya selalu berbakti kepada Allah subhanahu wata’ala dimana pun ia berada, baik ia di majelis, di Jakarta, di Amerika dan dimanapun ia berada namun ia telah memiliki jiwa yang kuat, maka ia akan menjadi gelombang yang membuat gelombang lainnya muncul menjadi lebih besar. Maka jadilah gelombang, masing-masing diantara kita harus mempunyai jiwa yang teguh, kita harus tau kemana kehidupan ini akan diarahkan, yang mana arahnya adalah ke kuburan dan tidak ada tujuan lain lagi selain itu. Namun dalam kehidupan tentunya kita akan menghadapi banyak hal yang harus kita lewati dan kita hadapi dengan baik dan secerdik mungkin, jangan sampai kita terjerumus ke dalam perangkap-perangkap kehinaan dan dosa. 14 abad yang silam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah sebagai “rahmatan lil ‘alamin” di muka bumi dan gelombang terus sampai ke penjuru di barat dan timur hingga saat ini. Barangkali 10 tahun yang lalu tidak terfikirkan oleh kita akan ada majelis di Monas yang dihadiri lebih dari 1 juta muslimin dan muslimat, namun gelombang dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa dihentikan, terus muncul dan muncul, ketika hilang ia akan muncul kembali dan begitu seterusnya. Maka haruslah kita jaga jangan sampai menjadi buih yang tidak ada kekuatannya. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Diriwayatkan pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang setelah menang dalam peperangan Hunain. Dan sedemikian liciknya kaum Hawazin untuk mengalahkan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam perang Hunain, sehingga mereka jadikan anak-anak dan istri mereka berada di belakang setiap laskar mereka, yang seharusnya anak-anak dan para wanita diamankan di dalam rumah dan tidak boleh ikut dalam peperangan, supaya mereka yang memerangi kaum muslimin tidak mundur dari peperangan karena dibelakang mereka adalah anak-anak dan istri mereka, begitu liciknya mereka untuk bisa memenangkan peperangan itu. Namun tetap saja kemenangan hanyalah milik Allah subhanahu wata’ala, keadaan disaat itu sedikit kacau namun segera membaik karena gelombang yang sangat kuat dan mempengaruhi yang lainnya yaitu munculnya gelombang yang semakin besar. Maka Rasulullah pulang ke Madinah Al Munawwarah dengan kemenangan. Ketika perang Hunain semua harta, anak-anak dan para wanita dibawa oleh orang kuffar ke peperangan, dan setelah mereka dikalahkan dalam perang itu harta mereka pun ditinggal. Maka ghanimah (rampasan harta perang) itu dibagi-bagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kaum Muhajirin, kepada para muallaf (yang baru masuk Islam), kepada penduduk Makkah dan orang-orang yang hijrah dari tempat lain, namun kaum Anshar tidak kebagian ghanimah itu. Mualilah kaum Anshar kasak kusuk, diantara mereka berkata : “ketika Rasulullah dalam keadaan susah maka kami yang dipanggil dan kami yang bertindak, tetapi ketika pembagian ghanimah kami tidak mendapatkan bagian”. Maka Rasulullah pun mengumpulkan kaum Anshar (riwayat Shahih Al Bukhari), dan berkata : ” aku telah memberikan harta ghanimah kepada kaum muhajirin dan para muallaf, maka mereka pulang dengan membawa harta itu, dan kalian pulang dengan membawa diriku, aku bersama kalian, cukupkah aku untuk kalian?”, maka kaum Anshar pun menangis dan berkata: “hasbuka (cukuplah engkau) wahai Rasulullah”. Kaum Anshar sangat mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun dalam hal ghanimah itu kaum Anshar tidak mendapatkan bagian karena Rasulullah tau bahwa kaum Anshar adalah orang-orang yang mampu, mereka memiliki rumah, pertanian, perkebunan, peternakan dan yang lainnya, sedangkan kaum muhajirin adalah penduduk yang datang dari Makkah dan tidak memiliki apa-apa, dan orang-orang muallaf pun datang dari jauh dan tidak mempunyai keluarga, maka mereka berhak mendapatkan bagian ghanimah itu. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adil dalam pembagian ghanimah itu, dan meskipun kaum Anshar tidak berhak atas harta itu namun Rasulullah tidak berkata: “kaum Anshar kalian tidak berhak atas ghanimah itu karena kalian adalah orang-orang yang mampu”, Rasulullah tidak berkata demikian, namun beliau berkata : “wahai kaum Anshar mereka pulang dengan membawa harta, sedangkan kalian pulang dengan membawa diriku, cukupkah diriku untuk kalian”?, demikian bijaksana nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang paling indah. Diantara akhlak beliau adalah sangat berlemah lembut namun beliau bukanlah orang yang pengecut. Setelah kejadian perang Hunain, ada seorang badui yang tidak kebagian harta ghanimah, maka rida’ (sorban) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang biasa beliau gunakan sebagai sajadah ketika shalat, atau diletakkan di pundaknya itu ditarik oleh badui ini dan berkata: “baiklah, jika engkau tidak lagi mempunyai harta lebih, aku minta ini saja”, namun Rasulullah kembali menariknya dan berkata: “ketahuilah sorban ini adalah milikku satu-satunya, dan seandainya aku mempunyai lebih dari satu maka pastilah akan kuberikan untukmu, dan engkau tau bahwa aku bukanlah orang yang pendusta, dan bukanlah orang yang kikir, dan aku bukanlah pengecut”, maka badui itu mundur setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rasulullah : “dan aku bukanlah pengecut”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling sempurna dari seluruh makhluk Allah, oleh sebab itu diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari, dijelaskan oleh sayyidina Al Barra’ Ra : كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنُهُمْ خُلُقًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling indah wajahnya dan paling indah akhlaknya” Akhlak beliau sangat indah dan tidak ada yang lebih indah dari akhlak beliau. Dan kita telah mendengar sebuah riwayat dari sayyidina Anas bin Malik Ra: مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” Wajah orang yang paling khusyu’, jiwanya yang selalu hadir bersama Allah, selalu bermunajat kepada Allah, yang berlemah lembut kepada semua manusia baik kawan atau pun lawan, kepada semua hewan dan tumbuhan dan semua makhluk Allah subhanahu wata’ala. Demikian manusia yang paling berhak untuk kita jadikan idola, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat nabi, sayyidina Abi Jahifah Ra berkata : “ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat, para sahabat meraih tangan Rasulullah dan mengusapkan ke wajah mereka, dan aku pun mengikuti perbuatan mereka juga maka kuusapkan tangan Rasulullah di wajahku dan kurasakan tangan beliau begitu menyejukkan wajahku, dan tidak pernah kutemukan kain yang lebih lembut dari telapak tangan beliau”. Diriwayatkan oleh sayyidina Anas bin Malik Ra beliau berkata: مَا مَسَسْتُ حَرِيْرًا وَلَا دِيْبَاجًا أَلْيَنُ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ رِيحًا قَطُّ أَوْ ‏عَرْفًا ‏ ‏قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ أَوْ ‏ ‏عَرْفِ ‏ ‏النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ “Aku tidak pernah menyentuh sutera dan pakaian sutera yg lebih lembut daripada telapak tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku tidak pernah mencium bau yg lebih harum daripada bau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan lainnya bahwa para sahabat berkata: “tidak pernah kami menemukan wewangian yang lebih wangi dari keringat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Secara logika dan ilmiah kita tau bahwa keringat itu keluarnya dari kotoran sel, kalau seandainya sampah-sampah sel yang keluar dari tubuh sang nabi lebih wangi dari minyak wangi, maka sungguh indahnya ciptaan Allah yang satu ini, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu Allah subhanahu wata’ala berfirman : وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم : 4 ) ” Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” ( QS. Al Qalam: 4) Dan Allah berfirman: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (الأحزاب :45-46 ) “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi” ( QS. Al Ahzab: 45-46) Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سُرَّ اِسْتَنَارَ وَجْهُهُ حَتَّى كَأَنَّ وَجْهَهُ قِطْعَةُ قَمَرٍ “Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bila gembira wajahnya bercahaya seperti bulan purnama” Dan di dalam riwayat Al Imam Tirmidzi disebutkan : “seakan-akan matahari dan bulan beredar di wajah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan juga di dalam Shahih Muslim bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat alqur’an (ucapan nabiyullah Ibrahim As): رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (إبراهيم:36 ) “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36) Kemudian Rasulullah membaca ayat al qur’an lagi (ucapan nabi Isa As): إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (المائدة : 118 ) ” Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ” ( QS. Al Maidah : 118 ) Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya, menangis dan berdoa: اَللَّهُمَّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ “Wahai Allah, tolonglah ummatku, tolonglah ummatku” Kemudian malaikat Jibril As turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasul, Allah bertanya apa yang membutmu menangis?” Allah subhanahu wata’ala Maha Tau keadaan beliau- , namun Allah mengutus Jibril As kepada Rasulullah agar beliau mengeluarkan isi hatinya, apa yang menyebabkan beliau menangis. Maka Rasulullah berkata: “Nabi Ibrahim As berlepas diri dari ummatnya yang pendosa, begitu pula nabi Isa As, namun aku tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari ummatku yang pendosa, aku tidak mampu mengatakan seperti yang telah diucapkan nabi Ibrahim dan nabi Isa (QS. Ibrahim: 36 dan QS. Al Maaidah: 118)”. Maka malaikat Jibril kembali kepada Allah dan Allah subhanahu wata’ala memberi salam kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian malaikat kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, wahai Rasulullah Allah subhanahu wata’ala telah menyampaikan kepadamu: إِنَّا سَنُرْضِيْكَ فِي أُمَّتِكَ وَلَا نَسُوؤُكَ ” Kami telah meridhoi umat-mu dan tidak akan menyakitimu” Maka di saat itu tenanglah perasaan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun sebelum itu beliau menangis karena tidak bisa berlepas diri dari ummatnya yang berdosa, beliau masih infin menyelamatkannya, maka Allah berikan hak syafaat kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ummatnya yang pendosa, inilah idola kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketika kaum Thaif melempari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Rasulullah sangat mampu untuk mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah untuk mencelakakan kaum Thaif, bahkan Allah telah memerintahkan kepada malaikat yang menjaga gunung untuk mengangkat gunung, setiap makhluk dijaga oleh para malaikat, dan manusia dijaga oleh dua malaikat (Raqib dan Atid), paling sedikit dua malaikat yang menjaga manusia, namun jika ia banyak beribadah, akan lebih banyak lagi malaikat yang menjaganya. Maka malaikat yang menjaga gunung berkata kepada Rasulullah: “wahai Rasulullah izinkan aku untuk mengangkat gunung dan kutimpakan di atas Thaif”, sebagaimana yang telah Allah perbuat kepada kaum nabi Luth, dimana malaikat Jibril mengangkat gunung dan menjadikan bagian atas berada di bawah dan sebaliknya kemudian menimpakannya pada kaum nabi Luth. Maka Rasulullah berkata: “jangan engkau hukum mereka, aku masih berharap barangkali keturunan-keturunan mereka ada yang mendapatkan hidayah”. Apa yang diperbuat oleh kaum Thaif kepada Rasulullah?, ketika Rasulullah berjalan, mereka berbaris di kiri kanan dan terus melempari kaki Rasulullah dengan batu, sehingga kaki Rasulullah berlumuran darah dan beliau terjatuh, mak mereka menyuruh beliau bangun dan berjalan lagi kemudian kembali melempari beliau dengan batu demikian seterusnya yang dilakukan kaum Thaif kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah beliau keluar dari Thaif mereka menyuruh anak-anak untuk mengejar dan melempari beliau dengan batu, seakan-akan anak-anak itu mengejar-ngejar orang gila. Mengapa kaum Thaif berbuat demikian?, karena patung-patung yang mereka sembah berbicara, patung-patung itu dimasuki oleh syaitan, jin dan iblis untuk berbicara bahwa nabi Muhammad adalah pendusta. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengadu kepada Allah dengan mengatakan: “wahai Allah, mengapa Engkau jadikan syaitan dapat mempengaruhi patung-patung itu sehingga bisa berbicara dan mendustakan aku?!”, namun Rasulullah hanya berkata : ” Wahai Allah kemana lagi aku akan pergi, aku menuju kepada sahabat-sahabatku, mereka dibantai, aku pergi kepada musuh-musuhku, mereka meerangi dan menyiksaku, namun selama Engkau tidak marah kepadaku maka aku tidak peduli apa yang terjadi padaku”. Begitu indahnya sang nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan beliau berkata : “yang kuharapkan barangkali kelak keturunan mereka mendapatkan hidayah”. Subhanallah, Rasulullah masih peduli pada semua yang masih ada di janin musuh-musuhnya barangkali bisa diselamatkan dan mendapatkan hidayah, demikian indahnya idola kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Diantara hal yang perlu saya sampaikan juga dari penyampaian-penyampaian yang terakhir adalah masalah qubah kramat Cikini, dan perlu saya perjelas lagi walaupun sudah pernah saya perjelas di beberapa majelis. Masalah qubah Cikini ini ada tiga jenazah yaitu Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi yaitu ayah Al Habib Ali Kwitang, dan juga ada istrinya dimana beliau adalah adik dari Raden Shaleh, dan dari pernikahan itu lahirlah Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, jadi Al Habib Ali bin Abdurrahman adalah keponakan Raden Shaleh. Maka dalam masalah pemindahan makam ini ada 3 hal yang perlu saya jelaskan, yang pertama secara syariah, secara syariah di dalam mazhab Syafi’i ada 18 hal yang membolehkan makam dipindah atau dibongkar, namun tidak satupun yang termasuk dalam hal ini, diantaranya adalah jika makam tidak menghadap ke kiblat maka harus dibongkar dan dihadapkan ke kiblat, begitu juga jika kain kafan yang digunakan adalah hasil curian maka harus dibongkar dan diganti dengan kain kafan yang bukan curian, atau jika yang meninggal adalah pencuri dan menelan barang curiannya dan pemilik barang itu tidak ridha dan meminta barang itu dikembalikan, maka makamnya harus dibongkar. Dan dari ke 18 hal yang memperbolehkan sebuah makam dipindah atau dibongkar, tidak satu pun dari permasalahan pembongkaran ini yang termasuk di dalamnya. Dan meskipun semua ahli waris setuju dalam hal pemindahan namun tidak ada syarat dari 18 hal tersebut, maka pemindahan makam tetap tidak diperbolehkan. Yang kedua menurut UU Negara kita, yaitu jika ahli waris sepakat maka makam boleh dipindahkan, maka berbeda antara syariat dan UU negara. Namun ada yang ketiga dan terpenting adalah masalah maslahat, secara maslahat maka antara syariat dan UU sama yaitu tergantung kemaslahatannya, jika maslahatnya makam harus dipindah maka dipindah, dan jika maslahatnya makam tidak dipindah maka makam tidak dipindah. Jika memperhatikan kemaslahatan terkadang hal yang haram bisa menjadi halal, misalnya ada yang mau meninggal karena kelaparan dan yang ada hanyalah makanan yang haram dan jika tidak dimakan orang itu akan meninggal, maka makanan itu boleh dimakan karena demi kemaslahatan. Jadi tergantung kemaslahatannya, maka masalah ini jika dilihat secara syariat maka tidak boleh dipindah, dan secara UU haruslah kesemua ahli waris sepakat atas pemindahan itu, dan yang terakhir secara kemaslahatan, hal ini harus dirundingkan antara ahli waris, para tokoh setempat dan fihak yang berwajib, dan hal ini sudah diserahkan kepada fihak yang berwajib dan saya juga mengikutinya secara tidak langsung, karena saya tidak mau terjun langsung secara anarkis dan tidak ingin ada pertumpahan darah, karena shahib maqam pun tidak akan ridha jika ada pertumpahan darah yang disebabkan makam beliau. Kita lihat sudah terjadi upaya pemindahan itu namun tidak bisa, berarti Allah tidak menghendaki pemindahan itu. Jika terjadi rencana pemindahan lagi apa yang harus kita perbuat?, jauhilah pertikaian, boleh kita mengamankan namun tanpa ada pertikaian apalagi sampai mengatasnamakan Majelis Rasulullah. Perjuangan dakwah kita ini untuk jangka panjang, untuk anak-anak kita, cucu-cucu kita, maka jagalah jangan sampai kita hancurkan. Semoga aku dan kalian menjadi gelombang dalam dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian yang ingin saya sampaikan, dan saya mohon doa semestinya malam ini saya berangkat menghadap guru mulia ke Yaman, namun beliau belum memberi jawaban. Jika besok beliau izinkan maka saya akan berangkat besok malam di jam yang sama 00.40 Wib, tetapi insyaallah hari Kamis atau Jum’at sudah kembali ke Jakarta. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada beliau, namun belum ada lampu hijau dari beliau tetapi tidak ada larangan untuk menghadap hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk mengunjungi beliau, maka saya belum bisa pastikan kapan saya berangkat karena menunggu instruksi dari beliau. Jika ini menjadi kemaslahatan semoga dimudahkan dan segera diberangkatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan kembali ke Jakarta dengan selamat. Semoga Allah pilihkan yang terbaik. Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah Kita berdoa dan bermunajat kepada Allah, agar Allah tidak menyisakan dosa-dosa kita, dosa orang tua kita, semoga Allah memberi semua hajat kita baik yang kita ketahui dan tidak kita ketahui, semua hajat kita di dunia dan di akhirah, semoga kemikmatan ditambah dengan kenikmatan yang lebih besar. Rabbi, semua keputusan akan kenikmatan untuk kami di dunia dan akhirah tambahkanlah, dan semua keputusan akan musibah yang akan datang untuk kami hilangkanlah dan gantikan dengan kenikmatan. Rabbi, inilah harapan dan doa, inilah permohonan dari hamba-hamba pendosa yang lemah yang penuh dengan harapan, dan Engkau tidak akan mengecewakan para pendoa dan para pengemis kepada-Mu karena Engkaulah Yang Maha Dermawan dan Maha Memberi… فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا … Ucapkanlah bersama-sama يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ Hadirin hadirat, jika Nabi Muhammad tidak mau berlepas diri dari ummatnya yang pendosa, maka janganlah kita berlepas diri dari nabi kita, selalulah ingin bersama beliau. Selanjutnya kita mohonkan kepada Ad Daa’i ilallah Al Habib Ibrahim Aidid untuk memimpin kita membaca qasidah Ya Arhamarrahimin untuk mendoakan kaum muslimin muslimat dan mengingatkan kita kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kalimat talqin oleh Al Habib Abdurrahman Al Habsyi, falyatafaddhal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: